ANALISIS

Kecemasan Gen Z di Balik Gemerlap Citayam Fashion Week

Foto: Joshua Siringo-ringo/ Ilustrasi/ Katadata
Di balik gemerlap Citayam Fashion Week (CFW), anak-anak muda dari Gen Z sedang menghadapi kecemasan terhadap masa depan. Mulai dari ketersediaan lapangan kerja, pendapatan, hingga ancaman kemiskinan. Bagaimana CFW bisa memoles masa depan mereka?
Reza Pahlevi
27 Juli 2022, 08.39

Remaja kelas ekonomi bawah dari daerah pinggiran menghentak ibu kota. Di jantung kawasan bisnis Jakarta, anak-anak usia tanggung, yang dalam istilah demografi dikenal sebagai Generasi (Gen) Z menggelar peragaan busana dengan nama “Citayam Fashion Week”.

Aksi yang awalnya dilakukan spontan kemudian viral di media sosial ini segera memantik perhatian publik, mulai dari selebritis hingga politisi. Tak hanya di Jakarta, tapi juga merembet ke wilayah lain di tanah air. Bahkan ada yang menyamakan fenomena tersebut sebagai Harajuku Street di Jepang versi Indonesia.

Meskipun yang datang ke Citayam Fashion Week tidak semua berasal dari daerah di selatan Jakarta itu, penyebutan nama Citayam berkesan peyoratif. Citayam adalah nama sebuah kelurahan di perbatasan Depok dan Bogor, tempat asal Bonge, Kurma, Jeje Slebew, dan Roy—ikon Citayam Fashion Week berasal.

Citayam Fashion Week bermula dari sekelompok remaja, yang sebagian putus sekolah, berbondong naik KRL menuju kawasan Sudirman untuk berkumpul dan sekadar nongkrong. Mereka berpakaian nyentrik, mengikuti perkembangan busana terkini, tapi terkesan lusuh. Ini kontras dengan kemeja dan pantalon pekerja kerah putih di kawasan Sudirman.

(Foto: Fenomena Citayam Fashion Week, dari Ruang Publik untuk Publik)

Sudirman Central Business District (SCBD) adalah salah satu pusat bisnis di Jakarta. Dikenal sebagai kawasan elite dan menjadi kantor dari berbagai perusahaan, terutama di sektor energi, keuangan, law firm, dan konsultan.

Tak hanya perkantoran, kawasan yang terletak di seberang Gelora Bung Karno itu terdapat pusat perbelanjaan Pacific Place. Tak jauh dari sana, Jalan Senopati yang memiliki deretan kafe dan restoran tempat nongkrong pekerja dan anak-anak muda kelas atas sembari menunggu kemacetan reda. Tempat-tempat nongkrong yang mungkin sulit dijangkau oleh anak-anak Citayam tersebut.

Dari skena ini, SCBD menemukan akronim baru yang lebih merakyat yakni Sudirman, Citayam, Bojong Gede, dan Depok sesuai dengan asal daerah para remaja tersebut.  

Kecemasan Gen Z

Sebagian besar pelaku Citayam Fashion Week ini adalah anak-anak muda berusia sekitar 15-24 tahun. Berdasarkan Sensus Penduduk 2020, kelompok usia tersebut masuk kategori Gen Z yang jumlahnya mencapai 74,9 juta jiwa atau 22,9% dari total penduduk.

Mereka adalah bagian dari potensi bonus demografi yang sedang dihadapi Indonesia. Jumlahnya yang besar tidak hanya menghadirkan potensi bonus, tapi dikhawatirkan menjadi bencana demografi yang dapat meledak di masa mendatang.

Bagi Gen Z, situasi ini memunculkan kecemasan. Ini yang ditemukan dalam survei Alvara Strategic Center yang dirilis Juni 2022 lalu. Dalam survei tatap muka terhadap 1.529 responden diketahui Gen Z cenderung lebih merasa cemas dibandingkan dua generasi sebelumnya.

“Berbeda dengan Gen X yang lebih memiliki mental teruji, karena memang sudah memiliki banyak pengalaman dalam menghadapi tekanan,” tulis Alvara dalam risetnya.

Beberapa persoalan yang mereka cemaskan berkaitan dengan kehidupan pribadi mereka. Misalnya, kurangnya lapangan pekerjaan, penghasilan, serta kemiskinan yang akan mereka hadapi di masa depan.

Roy (17) adalah salah satu pionir Citayam Fashion Week. Remaja bernama asli Aji Afriandi itu hanya mengenyam pendidikan sampai kelas tiga SMP lalu bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Apa yang terjadi pada Roy adalah tipikal anak-anak dari keluarga miskin yang putus sekolah untuk bekerja.

Begitu viral di TikTok, Roy mendapatkan tawaran beasiswa dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno. Namun tawaran tersebut dia tolak. Roy beralasan sekolah hanya akan menundanya mencari uang untuk keluarga.

Apalagi dia menimbang pendidikan tidak menjamin dirinya memperoleh pekerjaan yang diinginkan. Alih-alih belajar tinggi, dia lebih memilih membuat konten yang dapat menghasilkan uang.

“Bakal kerja saja sih. Paling kalau sekolah percuma, zaman sekarang juga sekolah tinggi paling cuma jadi OB paling gampang. Zaman sekarang tuh nyari kerja susah,” kata Roy yang dikutip dari Instagram @fakta.indo pada Senin, 11 Juli 2022.

Angka kemiskinan pasca-pandemi Covid-19 memang telah menunjukkan penurunan. Pada Maret 2022, tingkat kemiskinan tercatat sebesar 9,5% sebesar 26,2 juta jiwa atau turun 1,4 juta jiwa dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Meski begitu, jumlah anak yang berada di bawah garis kemiskinan lebih besar dibandingkan orang dewasa.

Pada Maret 2021, persentase penduduk di bawah garis kemiskinan pada kelompok umur di bawah 18 tahun tercatat sebesar 12,64%. Angkanya lebih tinggi dari kelompok umur 18 tahun ke atas 9,09%.

Studi yang dilakukan SMERU Institute menyebutkan anak-anak yang tinggal dalam keluarga miskin akan lebih sulit keluar dari jerat kemiskinan di masa depan. Penyebabnya kemiskinan keluarga membatasi akses anak-anak terhadap berbagai kesempatan, seperti pendidikan dan pelayanan kesehatan, yang penting untuk memperbaiki kondisi ekonomi.

Sementara anak yang orang tuanya memiliki aset dapat memberikan peluang bagi anaknya untuk meningkatkan kesejahteraan. Misalnya dengan memberikan pendidikan tambahan nonformal di luar sekolah serta perangkat yang dibutuhkan untuk keperluan belajar, seperti komputer atau jaringan internet.

Dalam studi tersebut, SMERU mengalkulasi pendapatan yang diperoleh anak-anak miskin ketika dewasa 87% lebih rendah dari mereka yang sedari kecil tidak tinggal di keluarga miskin.

Ancaman Putus Sekolah

Ikon Citayam Fashion Week lain seperti Jasmine Laticia alias Jeje (16) dan Eka Satria Putra atau Bonge (16) juga putus sekolah. Jasmine sempat sekolah hingga kelas tiga SMP sedangkan Eka tidak lulus SD kemudian menjadi pengamen.

Potret putus sekolah seperti yang dialami anak-anak “Citayam” tersebut memang bukan sesuatu yang mengejutkan di Indonesia. Andreas Tambah, anggota Komisi Nasional Pendidikan, mengatakan fenomena ini disebabkan adanya pesimisme sebagian masyarakat terhadap pendidikan di tanah air.

“Sekolah negeri sudah banyak digratiskan tetapi kenapa banyak yang tidak menyekolahkan anaknya? Ini yang harus diperhatikan oleh pemerintah,” kata Andreas ketika dihubungi Katadata, Senin 25 Juli 2022.

Apalagi ada fenomena lulusan SMA dan kuliah tidak menjamin mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Kondisi ini membuat banyak Gen Z memilih mengambil jalan instan seperti membuat konten medsos untuk mencari nafkah.

“Ada dunia lain yang menawarkan dengan lebih cepat, cepat terkenal, cepat viral, dan cepat dapat uang. Cara instan inilah yang dikejar anak-anak,” tambahnya.

Mengutip data BPS, persentase anak yang tidak sekolah meningkat semakin tinggi tingkat pendidikannya. Hanya ada 0,65% anak yang tidak bersekolah di SD/sederajat, sementara ada 21,47% anak usia SMA/sederajat yang tidak sekolah.

Kualitas pendidikan Indonesia juga belum sepenuhnya baik. Mengutip data Bank Dunia, Indonesia memiliki waktu belajar yang memperhitungkan kualitas pembelajaran atau learning-adjusted years of school (LAYS) selama 7,83 tahun, jauh di bawah ekspektasi 12,4 tahun.

Kondisi waktu belajar yang cukup rendah ini bahkan berpotensi lebih buruk setelah memperhitungkan kemungkinan kehilangan pembelajaran atau learning loss akibat pandemi Covid-19.

Jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya, rata-rata tahun belajar Indonesia berada di tengah-tengah. Indonesia kalah dari negara-negara seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Singapura.

Kehilangan waktu belajar ini berpotensi menurunkan tingkat pendapatan pekerja Indonesia di masa depan hingga maksimal 5,4%. Rata-rata pendapatan ini turun dari US$1.629 per tahun hingga menjadi US$1.590 per tahun.

Ini sekaligus membuat rata-rata pendapatan orang per tahun Indonesia semakin merosot di Asia Tenggara. Dalam skenario kehilangan belajar pesimistis, Indonesia pun diperkirakan akan kehilangan sebesar US$55,17 miliar dalam agregat pendapatan seumur hidup. Kehilangan ini dapat ditekan menjadi US$25,6 miliar dalam skenario optimistis.

Keterbatasan Lapangan Kerja

Sosiolog Universitas Indonesia Imam Prasodjo menilai keputusan Roy yang menolak beasiswa dari Sandiaga Uno sebagai hasil dari pendidikan formal Indonesia yang belum mengakomodasi literasi digital.

Imam menjelaskan, saat ini dunia berada dalam global digital culture atau budaya digital dunia di mana literasi digital menjadi penting. Dia menyayangkan pemerintah belum membuat infrastruktur pendidikan yang memadai untuk hal tersebut.

“Kalaupun anak-anak sekolah, mereka tidak tertarik. (Sekolah) tidak menjawab keinginan mereka,” kata Imam kepada Katadata.co.id, Senin 25 Januari 2022.

Preferensi Roy dan anak-anak Gen Z yang memilih menjadi pembuat konten sejalan dengan tren di pasar tenaga kerja. Proporsi lapangan kerja informal di sektor nonpertanian melonjak terutama bagi pekerja berusia antara 15 dan 24 tahun sejak tahun pertama pandemi.

Di Depok, Jawa Barat, misalnya, proporsi tenaga kerja informal dengan status buruh terus berkurang. Dari 69,4% pada 2020 menjadi 60,4% pada 2021. Sementara proporsi pekerja bebas di sektor nonpertanian meningkat dari 2,3% menjadi 4,2% pada periode yang sama.

Pandemi telah meningkatkan jumlah pemuda yang menganggur dan sedang tidak sekolah atau mengikuti pelatihan yang mencapai 22,4% pada 2021. Meskipun telah turun sejak tahun pertama pandemi, ini masih sedikit lebih tinggi dari level yang terlihat pada tahun 2019.

Walaupun pasar tenaga kerja telah bangkit secara bertahap, pandemi Covid-19 telah menekan sektor formal. Perusahaan-perusahaan dengan bisnis nonesensial terpaksa menunda kegiatan produksi dan mengurangi tenaga kerjanya untuk bertahan. Kemerosotan ini mendorong para pekerja kembali ke sektor informal.

Selain menekan sektor formal, pembatasan kegiatan masyarakat selama pandemi juga telah mendorong ekonomi digital untuk tumbuh pesat. Media sosial seperti TikTok memperbarui sarana untuk menghasilkan pendapatan.

Pembuat konten media sosial merupakan pekerjaan yang bisa mengakomodasi kebutuhan penduduk usia kerja tanpa latar belakang pendidikan tinggi, seperti Roy, Jeje, dan Bonge.

Editor: Aria W. Yudhistira